Menuju Kerjaya Masa Hadapan
Penguatkuasaan kehadiran pekerja menjadi perbincangan hangat di sebuah tempat kerja. Kebanyakan mereka bersikap memprotes kerana peraturan seumpama itu sudah basi, apalagi bila masalah kehadiran dikaitkan dengan KPI (Key Performance Index).
“Saya baru saja tutup laptop pukul sembilan malam dan sudah kembali buka laptop untuk bekerja sejak pukul 4 pagi. Sepanjang perjalanan ke pejabat pun saya terus memikirkan persiapan presentation saya yang akan saya persembahkan untuk klien. Mengapa saya ditegur dan dinilai tidak berprestasi kerana lima belas minit terlambat dari pukul 8.30 pagi?”
Ya, bila di waktu-waktu lalu “bekerja” dianalogikan dengan “berada di ruang kerja”, saat sekarang kita lihat hal itu sudah beransur-ansur berubah.
Pertama-tama lalu lintas, terutama di bandar besar seperti Kuala Lumpur, yang sudah tidak masuk akal memang melambatkan perjalanan kenderaan dan rutin kita pergi ke tempat kerja. Dari sudut lain, di dukung kemajuan dunia IT, maka kemungkinan bekerja di sebarang tempat pun semakin besar.
”Your mobile device will become your office, your classroom, and your concierge.” Demikian dua orang ahli pengurusan Jeanne Meister & Karie Willyerd katakan.
Bukan hanya tempat kerja yang menjadi semakin kabur, pergaulan pun sudah semakin tidak terbatas. Beberapa perusahaan/syarikat membatasi akses ke internet dan berbagai laman jejaring sosial terhadap para pekerjanya. Namun, tentu saja perusahaan/syarikat tidak mampu mengawal pekerjanya yang mengakses jejaring sosial menggunakan gadget canggih di tangan mereka. Kadang-kadang, melayari laman-laman jejaring sosial ini juga menjadi medium untuk promosi servis, produk dan bisnes perusahaan. Bilamana syarikat korporat dan kecil-kecilan (SME) sudah meyakini “on line recruitment’ tidak hanya melalui laman-laman tertentu untuk penjawatan, tapi juga laman sosial seperti Facebook, YouTube, Twitter bahkan blog-blog peribadi, masih mungkinkah kita melarang pegawai melakukan social networking? Apa yang akan dilakukan oleh Jabatan Sumber Manusia dengan keterangan dan fungsi jabatan, yang setiap saat berkembang, berubah, bahkan hilang? Mengenangkan perusahaan kini sudah bervisi regional bahkan global, bagaimana syarikat-syarikat ini melakukan program latihan terhadap para pegawainya yang tidak boleh ditarik dari tugasnya, berada di lokasi terpencil atau bahkan juga di negara lain? Bagaimana syarikat-syarikat mencakupi keperluan para profesionalnya dengan perubahan dunia kerja yang sangat cepat? Bagaimana kita menambat hati para ‘knowledge workers’ ber-‘backpack’ yang saat ini bekerja di tempat-tempat umum, seperti café dan pusat membeli-belah?
“Work-Life Flexibility”
Dahulu kita sering diusik oleh kejumudan pengetahuan dan juga kematangan pengalaman antara generasi, maka sepuluh tahun dari sekarang, kita akan melihat bahawa generasi senior yang masih kuat dan awet muda akan berhubungan dengan generasi berusia di bawah 30 tahun yang siap bekerja dan sudah mengglobal melalui perjalanan-perjalanan virtualnya. Bukan waktunya lagi kita mempermasalahkan salah persepsi atau salah komunikasi antara generasi, kerana pengetahuan begitu mudah untuk diakses dan keupayaan untuk meaksesnya terbuka bagi semua lapisan masyarakat. Reputasi tidak lagi tergantung pada tempoh perjalanan, tetapi lebih kepada “apa karyamu” dan “apa yang sudah kau buktikan pada masyarakat”
Kalau di zaman sekarang kita sudah tidak boleh bersenang-senang dengan keadaan buta teknologi, di masa depan perusahaan-perusahaan sudah semakin perlu mengupayakan “über connectedness”. Tidak ada tempat untuk sikap kaku dan ‘over focus”. Perusahaan sudah harus mampu mengupayakan media sosialisasi di mana bekerja, bermain, belajar dan berkomunikasi terjadi dalam saat yang bersamaan. Multitasking sudah menjadi keharusan, bahkan pengelolaan rumah tangga perlu mampu dilakukan sekaligus dengan pengelolaan tugas pejabat. Agar lebih didengar dan dimengerti jalan fikirannya, tidak ada salahnya seorang pimpinan mengelola “blog”-nya sendiri, di mana kepimpinannya bahkan mampu terevaluasi dan terkritik setiap saat.
Apabila kita sekarang sedang menyibukkan diri untuk mencapai “work-life balance” maka di masa akan datang “work-life flexibility” bakal menjadi jawapan terhadap keperluan keluarga, belajar dan berkarya para pekerja. Jadi, selain menerima transaksi bahawa sebagai pekerja kita perlu mendatangkan laba bagi perusahaan, golongan pekerja juga akan merasa ‘happy’ apabila mereka berkesempatan untuk melakukan hal-hal yang filantropik serta diberi kesempatan bersosialisasi seluas-luasnya.
Memuaskan Berbagai Keperluan
Seorang pekerja di perusahaan yang sudah menerapkan gaya kerja yang fleksibel, boleh pulang dari tempat kerja pukul tiga petang. Dia sempat memasak dan mengurus rumah tangga, kemudian memulai pekerjaan kembali pada pukul 9 malam setelah anak-anak tidur dan mencuci piring. Pekerja ini mempunyai tingkat kepedulian terhadap lingkungannya supaya setara antara hidup sihat, makanan sehat dan bekerja. Cabaran untuk menunjukkan produktiviti masih boleh dicapai sambil tetap memperhatikan lingkungan sosial, keluarga dan kehidupan peribadi. Kita sudah dan akan semakin memasuki era ROWE (Results Oriented Work Environment), di mana setiap pekerja, tua atau muda perlu menawarkan “Rx” (result / hasil) nya secara konkrit dan terukur. Generasi termuda yang sudah sangat memperhatikan tanggung jawab sosial, tanggung jawab berkeluarga, dan lingkungan perlu menukarnya dengan produktiviti yang menarik perusahaan pula. Para pemuda juga merasa wajib memikirkan kegiatan domestik di rumah tangga, dan merasa berhak mendapat izin tinggal di rumah kalau anak sakit. Sebaliknya jaminan kesuksesan, pertumbuhan bisnes , ketepatan waktu produktiviti juga harus disediakannya
Kalau kita sampai saat ini mampu mengaitkan disiplin kita dengan hal-hal yang sangat rutin seperti masalah kehadiran ke tempat kerja dan isu berkaitan kerja lebih masa maka nantinya disiplin kita akan terarah kepada hal-hal seperti ‘discovery’, inovasi, pembentukan kelompok, memimpin, menjual dan belajar. Hal-hal yang rutin perlu kita automatikkan sehingga tidak memerlukan pengawasan dan membuang sumber tenaga manusia. Contohnya, kita boleh mengganti sesi sosialisasi dengan membangun laman sebagai ruang komunikasi. Bila proses penjualan memang tidak boleh digantikan oleh mesin apapun, maka kita bangun kapasiti manusia yang melakukan proses penjualan. Bila pemecahan masalah sering memakan waktu yang cukup lama terutama dengan adanya birokrasi, maka "adhocracy” yaitu kebiasaan membentuk pasukan sementara untuk projek tertentu perlu dijadikan trend. Inilah mentaliti yang perlu kita gembur dan jalan yang perlu kita rintis menuju kerjaya masa depan yang lebih terjamin.
Sempena tema hari pekerja 2011 yang berbunyi "Pekerja Merealisasi Transformasi Negara", cabaran yang mendatang mendidik kita untuk sentiasa mengemaskini diri untuk sentiasa bersiap sedia demi hari yang bahagia.
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan ~ Al-Hasyr ayat 18
Segala Puji Bagi Allah Pengatur Semesta Alam
Sumber gambar kredit kepada: DeviantArt & 1Malaysia
